Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriyah

بِسْــــــــــــــمِاللهِالرَّحْمَنِالرَّحِيْــــــــــــــمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Idul Fitri adalah salah satu hari raya umat agama Islam yang terpenting. Umat Islam di Indonesia menyebut Idul Fitri sebagai Lebaran. Fitri berasal dari kata fathara – yafthuru – fithran yang artinya makan atau minum. Makna Idul Fitri (hari kembali berbuka) adalah hari ketika umat Islam sudah boleh kembali makan dan minum setelah tidak makan dan minum di pagi hari selama bulan Ramadhan. Idul Fitri jatuh pada hari pertama atau tanggal 1 bulan Syawal, bulan ke-10 pada kalender Islam. Penentuan Idul Fitri jatuh pada tanggal berapa dengan cara melihat hilal. Ketika bulan baru terlihat setelah bulan Ramadhan, maka hari berikutnya adalah Idul Fitri.

Selama hari raya Idul Fitri umat Islam menikmati kebahagiaan, pengampunan (saling memaafkan), dan perayaan. Umumnya, Idul Fitri dirayakan selama dua hari di beberapa negara yang mayoritas penduduknya Islam.

Sebelum merayakan Idul Fitri, umat Islam wajib membayar zakat yang disebut zakat fitri atau zakat fitrah. Zakat fitri adalah zakat yang wajib dilakukan umat Islam disebabkan berbuka dari puasa Ramadhan. Bertujuan untuk menyucikan diri dan membersihkan perbuatannya.

Idul Fitri identik pertama yang dilakukan adalah bertakbir pada malamnya dan paginya melaksanakan shalat Ied, setelah sholat Ied, sesama Muslim akan saling menyapa dan bersalaman. Mereka memberi selamat kepada sesama muslim dengan ucapan yang mengandung doa dan saling memaafkan, saling mengunjungi saudara dan tetangga. Anak-anak akan menerima hadiah dalam bentuk uang dari orang dewasa.

Tapi di tahun ke 2 ini, masih dalam suasana pandemi atau covid19, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan panduan penyelenggaraan Shalat Idul Fitri 1442 H pada masa Pandemi Covid-19.

Dalam surat edaran itu, shalat Idul Fitri tetap dilaksanakan di rumah bagi warga yang tinggal di zona oranye dan merah.

Panduan ini tertuang dalam Surat Edaran No SE 07 Tahun 2021 tentang Panduan Penyelenggaraan Salat Idul Fitri Tahun 1442 H/2021 M di saat Pandemi Covid-19.

Surat edaran itu juga mengatur tata cara takbiran di masjid, sedangkan takbir keliling dilarang untuk mencegah kerumunan. Berikut isi surat edaran tersebut :

Ketentuan takbiran

Melansir laman resmi Kemenag, malam takbiran menyambut hari raya Idul Fitri dalam rangka mengagungkan asma Allah sesuai yang diperintahkan agama, pada prinsipnya dapat dilaksanakan di semua masjid dan mushala.

1. Dilaksanakan secara terbatas, maksimal 10 persen dari kapasitas masjid dan mushala, dengan memperhatikan standar protokol kesehatan Covid-19 secara ketat, seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

2. Kegiatan takbir keliling ditiadakan untuk mengantisipasi keramaian.

3. Kegiatan Takbiran dapat disiarkan secara virtual dari masjid dan mushala sesuai ketersediaan perangkat telekomunikasi di masjid dan mushala.

Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1442 H/2021 M dapat diadakan di masjid dan lapangan hanya di daerah yang dinyatakan aman dari Covid-19, yaitu zona hijau dan zona kuning berdasarkan penetapan pihak berwenang.

Dalam hal shalat Idul Fitri dilaksanakan di masjid dan lapangan, wajib memperhatikan standar protokol kesehatan Covid-19 secara ketat dan mengindahkan ketentuan sebagai berikut:

  1. Shalat Idul Fitri dilakukan sesuai rukun shalat dan khotbah Idul Fitri diikuti oleh seluruh jemaah yang hadir.
  2. Jemaah shalat Idul Fitri yang hadir tidak boleh melebihi 50 persen dari kapasitas tempat agar memungkinkan untuk menjaga jarak antarshaf dan antarjemaah.
  3. Panitia shalat Idul Fitri dianjurkan menggunakan alat pengecek suhu dalam rangka memastikan kondisi sehat jemaah yang hadir.
  4. Bagi para lansia (lanjut usia) atau orang dalam kondisi kurang sehat, baru sembuh dari sakit atau dari perjalanan, disarankan tidak menghadiri shalat Idul Fitri di masjid dan lapangan.
  5. Seluruh jemaah agar tetap memakai masker selama pelaksanaan shalat Idul Fitri dan selama menyimak khotbah Idul Fitri di masjid dan lapangan.
  6. Khotbah Idul Fitri dilakukan secara singkat dengan tetap memenuhi rukun khotbah, paling lama 20 menit.
  7. Mimbar yang digunakan dalam penyelenggaraan shalat Idul Fitri di masjid dan lapangan agar dilengkapi pembatas transparan antara khatib dan jemaah.

Seusai pelaksanaan shalat Idul Fitri jemaah kembali ke rumah dengan tertib dan menghindari berjabat tangan dengan bersentuhan secara fisik.

Ketika kita kaitkan wabah Covid-19 dengan Idul Fitri, maka akan terungka setiap manusia harus kembali kefitrahan yang sesunguhnya.

Momentum Idul Fitri di masa pandemik virus Corona sebagai alarm pengingat bagi umat Islam untuk kembali ke fitrahnya sebagai seorang hamba dan khalifah di bumi ini.

Menurut pandangan Islam setiap manusia yang lahir di muka bumi ini dalam keadaan fitrah yakni asal kejadian yang suci dan murni, Covid-19 ini telah mengingatkan, menyentak dan melimbungkan pikiran dan kesadaran umat manusia.

Covid-19 ini telah mengingatkan, menyentak dan melimbungkan pikiran dan kesadaran umat manusia.

Aktivitas berubah, menjadi serba virtual, baik itu bekerja, meeting, perkuliahan, sekolah, berdakwah dan banyak aktivitas publik lainnya. Mengubah budaya dan kebiasaan yang sudah terbangun lama dalam kebudayaan manusia di dunia. Situasi dan kondisi memprihatinkan ini, menjadi bahan perenungan mendalam (tafúkur) baik sebagai umat Islam dan sebagai warga negara.

Pandemik ini harus menjadi momentum untuk peningkatan kwalitas sebagai hamba Tuhan. Allah SWT, memberikan anugerah Islam sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam menjemput keselamatan baik di dunia dan akhirat.

Apabila muaranya adalah takwa dari pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan, maka hari raya Idul Fitri dan hari-hari berikutnya idealnya bersenyawa sebagai sikap hidup seorang Muslim, untuk melawan dampak yang ditimbulkan dari Covid-19.

Maka sudah sepatutnya mendekatkan diri kepada Allah, merayu kepada-Nya untuk meminta pertolongan dengan senantiasa memperbanyak berdoa dan berdzikir.

Bersihkan hati dan jiwa ini dari hasad dan dengki, persatukan jiwa-jiwa ini dalam cinta karena-Mu dan dalam ketaatan kepada-Mu. karuniakan kami jasad yang terpelihara dari maksiat, terpelihara dari harta haram, makanan haram, perbuatan haram. Izinkan jasad ini pulang kelak, jasad yang bersih. Semoga dibukakan pintu hati agar selalu sadar bahwa hidup ini hanya mampir sejenak, jadikan sisa umur menjadi jalan kebaikan bagi ibu bapak kami, dan jadikan kami menjadi anak yang shaleh yang dapat memuliakan ibu bapak kami. Amiinn

Keluarga Besar SMA Negeri 1 Kelapa Kampit Mengucapkan :

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1442 Hijriyah

Taqobballahuminna wa minkum, taqobbal ya Kariim. Minal Aidil Wal Faidzin, mohon maaf lahir batin

Jangan lupa menerapkan protokol kesehatan ; 3M (Mencuci tangan, Memakai masker, Menjaga Jarak).

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

#idulfitri1442h #mohonmaaflahirbatin

Bermusahabah diri di Akhir Ramadhan Menuju Hari yang Fitri

 

Setiap orang muslim dituntun untuk senantiasa melakukan muhasabah berdasarkan firman Allah dalam surah al-Hasyr ayat 18 yang berbunyi;“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah (dengan mengerjakan suruhan-Nya dan meninggalkan larangan-Nya), dan hendaklah tiap-tiap diri melihat dan memerhatikan apa yang ia telah sediakan (dari amal-amalnya) untuk hari esok (hari Akhirat). Dan (sekali lagi diingatkan) bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat meliputi pengetahuannya akan segala yang kamu kerjakan.” (al-Hasyr: 18).

Muhasabah berasal dari kata hasyib yahsabu hisab, yang artinya perhitungan. Menurut pengertian Musahabah atau introspeksi diri adalah salah satu cara evaluasi dan membersihkan diri sendiri dari kesalahan-kesalahan yang mungkin telah diperbuat.

Muhasabah adalah memperhatikan dan merenungkan hal-hal baik dan buruk yang telah dilakukan. Termasuk memperhatikan niat dan tujuan suatu perbuatan yang telah dilakukan, serta menghitung untung dan rugi suatu perbuatan.

Dalam Islam, muhasabah ini bertujuan untuk memperbaiki hubungan kepada Allah (habluminallah), hubungan kepada sesama manusia (habluminannas), serta hubungan dengan diri sendiri (habluminannafsi).

Bagi seorang muslim, muhasabah adalah hal penting dan sebisa mungkin tak boleh dilewatkan. Sebab hidup di dunia itu sangat singkat. Jauh berbeda dengan kehidupan akhirat yang kekal. Kehidupan yang kita jalani saat ini pun akan menentukan bagaimana kehidupan di akhirat kelak. Apakah berakhir baik dan masuk surga, atau berakhir buruk dan masuk neraka.

Kali ini, hari demi hari dalam ramadhan yang penuh berkah ini telah berlalu begitu cepat meninggalkan kita. Sekarang ramadhan pun hendak beranjak pergi di hari-hari terakhirnya ini untuk meninggalkan kita semua dengan segala amalan yang telah kita lakukan.

Ibadah-ibadah ramadhan kita memang begitu akrab dan identik dengan puasa, tarawih, sedekah dan untaian bacaan Alquran. Namun, ada sebagian dari kita kadang meninggalkan sebuah hal yang begitu penting untuk dilakukan di bulan ramadhan yaitu melakukan muhasabah diri.

Sebagai manusia, kita semua tak pernah lepas dari kesalahan Begitulah kita sebagai anak cucu Nabi Adam yang telah ditakdirkan untuk berbuat kesalahan dan segera untuk bertaubat sebagaimana di riwayatkan:

“Seluruh anak Adam berdosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.” (HR. Ibnu Maajah)

Alhamdulillah ketika kita masih diberi kesempatan untuk bisa melakukan muhasabah. Muhasabah sesungguhnya telah mengajarkan kita tentang muroqabatullah dalam artian kita meyakini bahwa Allah selalu hadir dan mengawasi seluruh perilaku yang kita lakukan. Kita mengetahui dan menyakini bahwa Allah swt mengetahui segala sesuatu yang kita tampakkan dan kita sembunyikan dalam hati kita.

Menjelang akhir ramadhan ini adalah bagaimana kita berusaha agar kita memperbanyak istigfar dan meminta ampunan Allah swt atas dosa-dosa kita, selain itu segera kita meminta maaf kepada orang-orang atas kesalahan-kesalahan kita terlebih kita tidak sengaja dan lupa berbuat salah pada orang lain sehingga tidak ada pengadilan di akhirat nanti.

Senyatanya ramadhan adalah bukanlah satu-satunya waktu untuk melakukan muhasabah diri. Akan tetapi, orang seperti kita yang belum pernah mengetahui perintah dan hakikat bermuhasabah dapat menumbuhkannya di bulan penuh berkah ini.

Semoga, disisa umur kita ini masih bisa dipertemukan dengan ramadhan-ramadhan berikutnya yang Allah perkenankan untuk kita bertemu membasahi rindu akan kehadiran bulan ramadhan dan merajut cinta yang saleh di dalamnya.

Semoga kita bisa mengakhiri ramadhan ini dengan akhir yang baik dan mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat, dan kelak Allah swt mengumpulkan kita ke dalam Jannah Al-Firdaus-Nya…Aamiin

#ramadhankareem1442H

#musahabahdiri

#BersamaMeraihPrestasi